Naikkan Tarif BBM Premium Kok Seperti Permainan Yoyo

RABU siang lalu (10/10) Menteri ESDM Ignasius Yonan mengumumkan harga BBM premium menjadi Rp 7.000,- perliter mulai pukul 18.00. Tapi satu jam kemudian kenaikan itu dibatalkan. Publik pun heran, kenapa terkesan pemerintah ragu-ragu, sehingga bikin kebijakan seperti bermain yoyo. Apakah Jokowi khawatir tergerus elektabilitasnya?

Menaikkan harga BBM menjelang Pilpres memang bisa jadi buah simalakama bagi Jokowi yang mau memperpanjang ke periode kedua pemerintahannya. Dinaikkan bisa mengancam elektabilitas dalam Pilpres April 2019 mendatang, tak dinaikkan Pertamina yang babak belur, karena harus terus menjadi Pasukan Berani Tekor.

Meski Pertamina babak belur, tapi tak perlu sampai bengep macam habis operasi plastik. Sebab yang babak belur itu keuangannya, ketika harus nomboki sekitar Rp 2.000,-perliter untuk seluruh Indonesia. Harga pasar Premium memang sekitar Rp 6.500,- tapi sebetulnya yang Rp 2.000,- ditomboki negara. Namanya juga BBM bersubsidi.

Masalahnya, BBM itu bukan air yang tinggal nyedot dari tanah atau kali. Kita sudah lama impor, sehingga ketika dolar menyentuh angka Rp 15.200,- Pertamina pun kelabakan dibuatnya. Bulan Juli lalu harga minyak impor masih USD 74 perbarel, tapi Oktober ini sudah sampai USD 83 perbarel. Kasihan BUMN perminyakan ini.

Agar Pertamina tak kodok kalung kupat, awak boyok sing gak kuwat (baca: beban terlalu berat), Rabu siang lalu Menteri ESDM Ignasius Yonan mengumumkan dari Bali bahwa BBM Premium dinaikkan menjadi Rp 7.000,- mulai hari itu juga pukul 18.00. Tapi apa lacur, sejam kemudian keputusan pemerintah itu dibatalkan atau ditunda.

Sampai kapan, belum jelas! Yang pasti alasanya dua macam, di samping katanya Pertamina belum siap, juga karena arahan Presiden Jokowi. Rupanya Jokowi tidak tega rakyat menjadi korban kenaikan harga yang akan terjadi dari berbagai lini.

Kalangan pengamat politik menilai, penundaan itu karena Jokowi tak mau elektabilitasnya menjelang Pilpres 2019 menjadi turun. Apa lagi bagi oposisi, ini jelas mainan baru yang bisa digoreng-goreng dan ditembakkan ke pemerintah. Padahal faktanya, penundaan ini juga sudah menjadi gorengan baru kalangan oposisi.

Tapi terlepas dari politisasi BBM, kebijakan pemerintah mendadak dibatalkan hanya dalam tempo satu jam, terkesan putusan Menteri ESDM seperti anak-anak bermain yoyo saja. Dilepas lalu ditarik lagi. Dulu Megawati pernah meledek kebijakan SBY dengan yoyo ini, eh sekarang petugas partainya di Istana melakukan hal sama. – gunarso ts