Berjibaku di Tanah Palu

SORE itu, 28 September 2018, pukul 18.02 WITA, masyarakat Indonesia tersentak dengan terjadinya gempa bumi beruntun berkekuatan 5-7,4 skala richter (SR). Usai gempa, tsunami pun menerjang pantai barat Pulau Sulawesi, Indonesia, bagian utara. Gempa memicu tsunami hingga ketinggian lima meter di Kota Palu.

Tak hanya di Kabupaten Donggala, Kota Palu, guncangan juga dirasakan di Kabupaten Parigi Moutong, Kabupaten Sigi, Kabupaten Poso, Kabupaten Tolitoli, Kabupaten Mamuju bahkan hingga Kota Samarinda, Kota Balikpapan, dan Kota Makassar.

Mata dunia tertuju pada Kota Teluk itu. Berbagai bantuan mengalir ke wilayah-wilayah yang terkena gempa. Kondisi di sana pun layaknya kota mati. Tak ada air, bahkan listrik. Bahan bakar minyak (BBM) pun sulit didapatkan.

Tak ayal, warga berebut mendapatkan BBM. Bahkan, mereka menjarah tangki bawah tanah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) yang sudah tidak dijaga di Kota Palu. Selain pasokan BBM yang terputus, penanggulangan bencana dan pasokan listrik generator set (genset) yang menjadi andalan pemerintah juga terganggu.

Gerak Cepat Tanggap Bencana

Melihat situasi ini, sehari setelah gempa, PT Pertamina (Persero) bergerak cepat mendirikan posko sementara penanganan korban gempa di Donggala dan Palu, Sulawesi Tengah. Posko tersebut didirikan di Depot Pengisian Pesawat Udara (DPPU) Palu dan di Terminal BBM (TBBM) Donggala.

Unit Manager Communication & CSR Marketing Operation Region (MOR) VII M Roby Hervindo menegaskan posko tersebut sebagai salah satu bentuk reaksi cepat tanggap darurat Pertamina untuk penanganan korban serta distribusi energi.

Baca: Pertamina: SPBU Palu Buka 24 Jam

Saat itu Pertamina mengirimkan bantuan logistik dan obat-obatan ke Donggala dengan mengerahkan beberapa tim dari titik lokasi pemberangkatan di sekitar Pulau Sulawesi. Tim 1 dari Makassar, Sulawesi Selatan, berangkat dengan kapal perang TNI AL dari pelabuhan Lantamal. Sementara tim terdiri dari tujuh orang tersebut meliputi pekerja, tenaga medis, welder, dan helper.

Demi memudahkan warga, sepekan setelah gempa dan tsunami, Pertamina juga melakukan berbagai upaya untuk mempercepat penjualan BBM. Salah satunya dengan menurunkan SPBU portabel yang digerakkan dengan sistem manual pompa engkol. Selain itu, Pertamina juga menjual BBM yang telah diukur dan ditempatkan dalam kaleng kemasan ataupun jeriken.

“Kami berupaya maksimal sebagaimana arahan pemerintah dalam mempercepat layanan penjualan BBM ke masyarakat, dengan tetap memperhatikan aspek keamanan karena BBM merupakan barang yang mudah terbakar,” kata Direktur Pemasaran Retail Mas’ud Khamid.

Sinergi Energi

Sepekan setelah gempa, yakni Sabtu, 6 Oktober 2018, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan juga berjibaku kembali menghidupkan layanan energi di Palu, Donggala, dan Sigi, Sulawesi Tengah.

Jonan menginstruksikan Pertamina dan PT PLN (Persero) untuk segera memulihkan sistem kelistrikan di wilayah tersebut.

Senada, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno pun tak bisa memantau pemulihan layanan energi bagi masyarakat setempat. Diakuinya, perbaikan jaringan di wilayah terdampak gempa pada 28 September 2018 butuh waktu karena luasnya wilayah terdampak.

Selain itu, lanjut Rini, banyak keluarga petugas dan teknisi PT Perusahan Listrik Negara (PLN) (Persero) yang menjadi korban. PLN harus mengirimkan ribuan teknisi untuk membantu pemulihan listrik di Sulteng. “Kita mendatangkan hampir 1.400 (teknisi) dari seluruh Indonesia,” kata Rini, beberapa waktu lalu.

Relawan Blusukan ke Daerah Bencana

Tiga minggu berlalu usai bencana, puluhan relawan Pertamina Peduli masih terus “blusukan” menyalurkan bantuan ke wilayah-wilayah terdampak gempa dan tsunami di Palu, Donggala dan Sigi. Lebih dari 65 lokasi telah didatangi di wilayah Palu, Donggala, dan Sigi. Perjalanan jauh pun tak dihiraukan, yakni 12 jam hingga melewati jalan dengan 36 titik longsor.

Beratnya medan yang ditempuh tak menyurutkan semangat para relawan untuk menyalurkan bantuan bagi masyarakat, khususnya di wilayah yang sulit diakses ataupun terisolasi. Penyaluran bantuan ini menggunakan mobil bantuan atau Posko Mobile Pertamina Peduli yang tidak hanya membawa bantuan logistik namun juga dilengkapi tim medis dokter dan perawat, serta membawa obat-obatan.

“Kami menempuh waktu empat jam untuk mencapai Posko Induk di desa Bolapapu dan Boladangko, Kecamatan Kulawi, Kabupaten Sigi. Sepanjang perjalanan, tim harus turun dan mendorong mobil ketika menghadapi jalan yang tertutup longsor. Ada sekitar 36 titik longsor yang dilewati,” ujar Andromeda, Pekerja Pertamina Refinery Unit VI Balongan yang menjadi relawan Pertamina Peduli.

Menurut Andromeda, semua tantangan yang dilalui tersebut terbayarkan ketika melihat wajah bahagia para pengungsi saat menerima bantuan logistik dan medis dari Posko Pertamina Mobile. “Tentunya perjuangan mendistribusikan bantuan ini memberikan arti tersendiri bagi para korban bencana,” ujarnya.

(AHL)