Skema Gross Split Bikin 30 Blok Migas Makin Diminati

Jakarta: Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat kontrak 30 wilayah kerja (WK) atau blok migas telah menggunakan skema kontrak bagi hasil atau gross split.

Jumlah tersebut merupakan akumulasi sejak skema gross split diberlakukan pada Januari 2017 hingga November 2018. Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar mengatakan jumlah tersebut menunjukkan bahwa kontrak gross split semakin dinikmati investor.

“Sampai sekarang sudah ada 30 kontrak menggunakan gross split,” kata Arcandra seperti dikutip dari laman resmi Kementerian ESDM, Selasa, 6 November 2018.

Berdasarkan jumlah tersebut, sebanyak 11 WK merupakan hasil lelang 2017 dan 2018. Hasil lelang 2017 di antaranya WK Andaman I, Andaman II, Merak Lampung, Pekawai dan West Yamdena. Sedangkan hasil lelang 2018 yakni WK Citarum, East Ganal, East Seram, Southeast Jambi, South Jambi B dan Banyumas.

Sedangkan sisa 19 WK lainnya merupakan WK terminasi yang masa kontraknya berakhir mulai 2017 hingga 2022. WK yang kontraknya berakhir 2017 adalah Offshore North West Java. Sedangkan yang berakhir 2018 adalah North Sumatera Offshore, Ogan Komering, South East Sumatera, Tuban, Sanga-Sanga dan East Kalimantan.

WK migas yang kontraknya berakhir 2019 adalah Jambi Merang, Raja/Pendopo, Bula dan Seram-Non Bula. Kontrak yang berakhir 2020 yaitu Malacca Straits, Brantas, Salawati, dan Kepala Burung.

Sementara WK yang kontraknya berakhir 2021 adalah Rokan. WK yang berakhir 2022 ialah WK Tarakan, WK Coastal Plains and Pekanbaru (CPP), serta WK Tungkal.

Arcandra berharap penawaran WK migas tahap III-2018 berjalan baik sehingga jumlah WK yang menggunakan skema gross split semakin banyak. Skema ini diharapkan menggairahkan kembali investasi migas di Indonesia karena dinilai memberikan banyak keuntungan dan kemudahan bagi investor.

(SAW)