Qatar Berpotensi Dongkrak Harga BBM

Ilustrasi. (FOTO: AFP)

Jakarta: Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira Adhinegara mengatakan harga BBM nonsubsidi berpotensi akan disesuaikan lagi usai hengkangnya Qatar dari Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC).

Pasalnya, keluarnya Qatar dari OPEC langsung direspons oleh harga minyak dunia yang mengalami kenaikan. Dilansir dari Bloomberg harga minyak Brent hari ini berada di posisi USD62,99 per barel dan harga minyak WTI USD53,97 per barel.

“Harga minyak yang mulai naik menjadi isyarat harga BBM jenis nonsubsidi akan disesuaikan lagi,” kata Bhima kepada Medcom.id, Selasa, 4 Desember 2018.

Menurut Bhima, Qatar memiliki strategi untuk memangkas produksi minyak dan gas sehingga menaikkan daya tawar kepada pembeli. Kemudian kondisi musim dingin juga memberi andil untuk menaikkan permintaan energi.

“Dikhawatirkan harga minyak trennya akan terus meningkat di atas USD70 per barel (jenis Brent),” ucap Bhima.

Menilik kondisi seperti itu, maka biasanya pelaku usaha akan melakukan penyesuaian harga BBM nonsubsidi.

Menteri Energi Qatar Saad Sherida al-Kaabi sudah memutuskan Qatar untuk hengkang dari OPEC. Dalam konferensi pers di Doha, Al-Kaabi menjelaskan latar belakang Qatar menarik diri dari OPEC dilandasi keinginan untuk fokus terhadap upaya pengembangan dan peningkatan produksi gas alam.

“Kami ingin menaikkan produksi dari 77 juta ton menjadi 110 juta ton setiap tahunnya,” jelas Al-Kaabi.

(AHL)